Kenali Lima Penyebab Culture Shock di Indonesia

Kali ini, Jejak Dolan akan mengajak Kawan Dolan membantu orang asing yang sedang mengunjungi Indonesia. Terutama bagi yang baru pertama kali datang ke Indonesia, tentu ada kemungkinan mereka akan mengalami culture shock. 

Istilah culture shock atau gegar budaya diperkenalkan oleh Oberg, seorang antropolog – diartikan secara luas sebagai kegelisahan seseorang akibat kehilangan hal-hal yang sudah dikenalnya. Dalam hal traveling, culture shock muncul saat seorang pejalan sulit beradaptasi dengan kebiasaan setempat di daerah yang sedang dikunjunginya.

Dalam keadaan demikian, Kawan Dolan bisa berperan sebagai warga lokal yang menjadi bagian dari global citizenship. Caranya, beritahukan kebiasaan kita yang berpotensi sebagai pencetus culture shock, lalu bantu mereka mengatasi ketidaknyamanan yang mungkin muncul.

Kebiasaan 1: Panggilan “Bule” dan “Mister”

Bayangkan Kawan Dolan sedang mengajak teman dari negara lain berjalan-jalan, lalu tiba-tiba ada yang memanggil “Hei, Bule!” atau “Mister! Mister!“. Bersamaan dengan itu kemudian dalam sekejap, beberapa anak kecil, atau orang dewasa datang mendekat dan minta berkenalan. Bisa dipastikan, teman kalian itu akan merasa bingung, atau bahkan tidak nyaman.

Kawan Dolan perlu sampaikan bahwa panggilan Bule bukanlah hal yang buruk. Panggilan itu cukup dibalas dengan lambaian tangan atau senyuman. Sampaikan juga, selain panggilan ini, teman bule biasanya akan disapa “Mister” tanpa memandang jenis kelamin.

Kebiasaan 2: Permintaan Foto Bersama

Selain disapa bule, permintaan foto bersama adalah juga hal yang dianggap wajar. Tanyakan ke teman anda apakah ia keberatan dengan permintaan foto bersama. Jika ia keberatan, jangan pernah memaksanya, karena hal ini berkaitan dengan privasi. Kawan Dolan bisa membantu menjelaskan alasan ini ke orang-orang yang meminta foto bersama.

foto bareng bule
Pic: desainggrissingosari.com

Atau, sebaliknya, kalian juga bisa menyampaikan jika foto bersama dengan orang asing adalah kebanggaan, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Seolah-olah sebagai bukti kalau mereka sudah pernah ketemu bule, atau malah mereka bisa bercerita kalau ada bule mampir rumah.

Kebiasaan 3: Menggunakan Gayung di Toilet/Kamar Mandi

Indonesia adalah salah satu negara yang masih menggunakan kloset jongkok. Di daerah pinggir kota, kloset jenis ini lebih mudah ditemukan. Untuk membersihkan diri, toilet biasanya dilengkapi dengan gayung dan air untuk membersihkan diri, bukan bidet (selang air).

Padahal, di banyak negara, toilet biasanya dilengkapi kloset duduk. Urusan membersihkan diri pun sudah cukup lumrah dengan adanya tisu toilet (tisu gulung) atau bidet.

Pic: PicBon

Perbedaan kelengkapan toilet ini rentan menimbulkan masalah bagi orang asing yang terbiasa dengan kloset duduk dan tisu. Kalian bisa mengajarkan cara menggunakan gayung. Namun, tidak ada ruginya untuk juga menyediakan tisu gulung.

Nah, jangan lupa, urusan tisu toilet ini masih nyambung dengan kebiasaan lain.

Kebiasaan 4: Tisu Gulung (atau Tisu Toilet) di Meja Makan

Beberapa negara seperti AS, Singapura, dan Rusia memiliki sistem toilet kering, yang artinya penduduk negara tersebut menggunakan tisu (biasanya berbentuk gulungan, atau tisu gulung) setelah membereskan “bisnisnya” di toilet.

Sedangkan di Indonesia, tisu gulung adalah pelengkap wajib di meja makan, mudah sekali ditemukan di warung makan sampai restoran. Gunanya? Ya untuk lap tangan atau lap mulut sesudah makan.

Beda fungsi tisu gulung ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, lho. Sebagai tuan rumah yang baik, jangan lupa memberi tahu teman WNA kalian tentang budaya tisu gulung di atas meja. Atau, singkirkan saja tisu gulung dari atas meja.

lima kebiasaan penyebab culture shock di Indonesia
Pic: www.potretnews.com
Kebiasaan 5: Sapa dengan Pak/Bu

Terakhir, ajarkan teman WNA kalian untuk menggunakan sapaan “Pak” dan “Bu” kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Jelaskan kepada mereka bahwa menyapa dengan nama panggilan adalah tindakan yang kurang sopan. Sapaan dengan nama panggilan biasanya hanya digunakan untuk teman dekat atau orang yang lebih muda.

Hal tentang sapaan ini penting karena, di banyak negara, sapaan demikian hanya digunakan untuk hal-hal formal. Untuk urusan informal, sapaan hanya berupa nama panggilan atau nama belakang, tanpa embel-embel Pak atau Bu dalam bahasa setempat (misalnya, Sir atau Ma’am dalam bahasa Inggris).

======

Jika muncul masalah akibat culture shock, aturan utama, jangan panik. Diam sejenak, lalu coba cari letak permasalahannya. Tenangkan si bule lalu jelaskan dengan hati-hati. Jika permasalahan melibatkan penduduk setempat, bantu para penduduk mengerti bahwa teman kalian itu tidak paham dengan kebiasaan setempat. Lalu, jangan lupa minta maaf.

Tinggalkan Balasan