Izhevsk : the City of Armor, the Home of Kalashnikov

Rencana perjalanan wisata ke Rusia biasanya akan mencantumkan dua kota besar, Moskwa dan Sankt-Peterburg, atau Kawan Dolan lebih kenal dengan nama Moskow dan Saint Petersburg. Kedua kota ini cocok untuk pejalan yang gemar berwisata sejarah, atau hanya sekadar berjalan menyusuri kota sembari berbelanja Mathroyska. Untuk yang ingin sedikit berpetualang mengejar aurora borealis sambil merasakan dahsyatnya musim dingin ala Rusia, pasti akan menuju Murmansk di bagian utara. Namun, kali ini kami tidak akan membahas salah satu dari ketiga kota tersebut. Ada kota yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi, yaitu Izhevsk – the city of armor.

Izhevsk Pond - Izhevsk the city of armor

Pabrik Senjata Izhmash: Cikal Bakal Izhevsk

Beberapa tahun silam, pengalaman berkunjung ke Izhevsk memberikan kesan tersendiri. Kotanya tenang, masyarakatnya helpful, budayanya unik, hingga sejarah kotanya tercatat dengan baik.

Bicara tentang sejarah Izhevsk, salah satu yang menarik adalah perihal julukan the City of Armor (kota senjata). Julukan ini tidak lepas dari sejarah Izhevsk yang dimulai dengan dibangunnya Pabrik Senjata Izhmash (Ижевский Mашиностроительный Завод, Iževskij Mašinostroitelʹnyj Zavod, Izhevsk Arms Factory).

Pabrik Senjata Izhmash - Izhevsk, Rusia

Pabrik Senjata Izhmash dibangun pada 1807 oleh Andrey Deryabin atas perintah Tsar Alexander I, yang saat itu sedang mempertahankan Rusia dari invasi pasukan Napoleon. Harapannya, Pabrik Senjata Izmash dapat mendukung pasokan senjata bagi Rusia. Saat itu pabrik senjata di Rusia memang tidak banyak, sementara kebutuhan senjata cukup tinggi. 

Keputusan mendirikan pabrik persenjataan di Izhevsk, sekitar 500 mil dari Moskow, ternyata tepat. Pada saat pasukan Napoleon menduduki Moskow pada 1812, keberadaan pabrik senjata ini tidak terpengaruh. Produksi senjatanya justru terus bertumbuh. 

Menghimpun dari berbagai sumber, Pabrik Senjata Izhmash dibangun di hutan yang berada di sepanjang Sungai Izh. Dari sinilah kemudian perlahan pusat kota Izhevsk mulai muncul dan berkembang di sekeliling Pabrik Senjata Izhmash. 

Mikhail Kalashnikov dan Senjata Ak-47

Reputasi Izhmash sebagai pabrik persenjataan mulai dikenal setelah senjata produksinya banyak dipakai dalam berbagai peperangan. Mulai dari Perang Dunia I, Revolusi Bolshevik, sampai ke Perang Dunia II. Setelah Perang DuniaII berakhir, popularitas Pabrik Senjata Izhmash semakin meningkat saat seorang veteran perang bernama Mikhail Kalashnikov bergabung dan berkarir di Izhmash. Mikhail Kalashnikov mengembangkan senjata baru, yaitu sebuah senapan otomatis yang dikenal dengan sebutan AK-47.

Menelisik sejarah AK-47 di Museum Kalashnikov

Bagi Kawan Dolan yang menggemari hal seputar dunia militer dan persenjataan tentu tidak asing dengan AK-47. Senapan ini disebut-sebut sebagai salah satu senjata dengan distribusi terluas di dunia. AK-47 banyak digemari karena keunggulannya yang mudah dalam penggunaan dan perawatan, tidak mudah macet, serta harga yang tergolong murah. AK-47 memiliki nama resmi Avtomat Kalashnikova dengan angka 47 yang merujuk pada tahun kelahirannya.

Mikhail Kalashnikov dianggap sangat berjasa dalam dunia kemiliteran Rusia, khususnya di Izhevsk. Untuk mengabadikan jasanya, The Kalashnikov Museum and Exhibition Complex of Small Arms dibangun di pusat kota Izhevsk. 

Kalashnikov Museum - Bukti Izhevsk : the city of armor

Museum ini kami rekomendasikan untuk dikunjungi jika Kawan Dolan sedang berada di Izhevsk. Museum Kalashnikov sangat memanjakan mata karena memiliki tiga exhibition hall. Total ada sekitar 8.000-an koleksi dalam 12 kategori, dan bahkan sudah terdokumentasi secara elektronik.

Bagian pertama museum menampilkan koleksi yang berkisah tentang sejarah keluarga Kalashnikov sampai sebelum pecahnya Perang Dunia II. Kemudian, di bagian kedua diletakan koleksi yang menceritakan tentang sejarah lahirnya AK-47. Mulai dari pengembangan senjata AK di beberapa negara, sampai ke penghargaan yang diperoleh Mikhail Kalashnikov untuk senjata rancangannya tersebut. Terakhir, bagian ketiga dari museum ini didedikasikan khusus untuk Izhmash sebagai pabrikan yang memroduksi AK-47 untuk pertama kalinya.

Koleksi di Museum Kalashnikov

Museum Kalashnikov juga dilengkapi dengan audio visual yang baik. Beberapa video dan suara Mikhail Kalashnikov yang menceritakan kisah hidupnya ditampilkan untuk memberi pengalaman yang lebih nyata bagi pengunjung museum.

Belum selesai sampai di situ, daya tarik lain dari Museum Kalashnikov juga ada di ruangan yang dinamakan demonstration hall. Di ruangan ini pengunjung dapat mencoba menembakkan senjata ke beberapa target yang telah disediakan. Tentunya ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjajal senjata di Museum Kalashnikov, yaitu paspor yang masih berlaku dan SIM Internasional. Jika ingin lebih merasakan suasana Izhevsk sebagai the city of Armor, selepas kunjungan ke Museum Kalashnikov, mampirlah berjalan-jalan ke sekitaran Izhevsk Pond.

Izhevsk Pond – Danau Buatan yang Indah

Izhevsk Pond adalah danau buatan yang memang dirancang untuk mendukung geliat industri di Izhevsk. Dari sini, kawasan industri pabrik Izhmash dapat terlihat dengan sangat jelas.

Izhevsk Pond - Izhevsk : the city of armor

Kami masih ingat sekali betapa megahnya kompleks industri Izhevsk dari kejauhan. Asap yang tak henti bergulung-gulung dari cerobong pabrik menandakan proses produksi yang masih terus aktif.

Menikmati pemandangan Izhevsk Pond berlatarkan kumpulan pabrik membuat kami membayangkan bagaimana senjata didistribusikan ke seluruh Rusia dan pastinya, seluruh dunia. Tentunya geliat aktivitas di kawasan industri Izhevsk juga memberikan efek positif bagi perkembangan Kota Izhevsk. Tak salah, sang pendiri pabrik pertama di Izhevsk, Andrey Deryabin, dinobatkan sebagai the founding father of Izhevsk.

Monumen Deryabin - Izhevsk, Rusia

Sayangnya, kami tak sempat berlama-lama menikmati kecantikan Izhevsk Pond. Tubuh kami yang terbiasa dengan iklim tropis, tidak kuat menahan terpaan angin musim dingin. Benar kata salah seorang teman, jika ingin menikmati musim dingin yang sebenarnya, datanglah ke Rusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *