Cerita Kawan tentang 3 Rasa dari 3 Perjalanan

Beberapa waktu lalu, kami berbincang perihal makna perjalanan dengan seorang kawan dolan. Begitu juga dengan apa saja yang sudah kami dapatkan dari perjalanan ke tempat-tempat yang baru. Dari obrolan tersebut, kami sepakat: perjalanan apapun bentuk dan tujuannya, selalu punya cara untuk mengajarkan hal-hal baru. Perjalanan akhirnya bukan hanya sekadar soal menikmati eksotisme alam. Pula, bukan hanya berhenti pada soal sudah seberapa jauh kaki telah menjejak tanah di negeri orang. Berikut kami bagikan kisah dari kawan kami tersebut. Katanya, tentang 3 rasa dari 3 perjalanan. Ia bercerita tentang tiga pengalaman yang didapatnya saat singgah di tiga kota. Ada hal-hal baru yang kemudian mengubah pola pikir, gengsi, bahkan soal bagaimana mulai melakukan perjalanan dengan cara yang berbeda.

1. Kampung Kota di Jakarta dan Niat Blusukan Melihat Rupa Kota Yang Sebenarnya

3 rasa dari 3 perjalanan - kampung kota
Foto: @jejakdolan

“Untuk pertama kalinya saya melihat kampung kota dari ketinggian. Tepatnya dari atas sebuah hotel mewah. Untuk pertama kalinya itu pula saya merasa gang-gang kecil, perkampungan warga, atau tempat-tempat lain yang jauh dari gemerlap kota memiliki daya magnet yang jauh lebih besar. Wajah sebuah kota menjadi lebih nyata saat menelusuri tiap jengkal tempat-tempat tersebut.”

Dulu ibu saya suka sekali mengajak anak-anaknya liburan ke Jakarta. Jika tidak bersamaan dengan tugas kantor, ibu biasanya lebih memilih menginap di hotel langganannya di daerah Kwitang. Pernah satu kali karena tipe kamar yang biasa kami tempati full, akhirnya kami mendapat kamar di lantai paling atas.

Kamar di atas ternyata nyaman sekali karena ada area terbuka untuk bersantai. Dari area tersebut, saya bisa melihat sepersekian wajah Jakarta. Termasuk kampung kota – ‘yang entah apa namanya – yang berada persis di belakang hotel. Kata “kumuh” dan “padat” seketika muncul di benak saya.

Besar kemungkinan, di sana, ruang pada satu petak rumah disulap multifungsi. Secara fisik, rumah di perkampungan kota itu tidak ada apa-apanya jika beradu rupa dengan seperempat bagian hotel tempat saya menginap. Miris sekali. Lalu saya kesambet.

Sejak itu, di setiap perjalanan ke kota yang baru, saya selalu mengusahakan untuk blusukan ke titik-titik tertentu untuk melihat lebih dekat rupa si kota. Rasanya perjalanan jadi jauh lebih menarik setelahnya. Selalu ada cerita tentang kisah hidup warga kota dari masa ke masa yang seringkali luput dilihat oleh banyak orang. Contohnya saja, tentang bagaimana perlawanan warga terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan. Begitu juga dengan bandelnya warga yang membuat kavlingnya sendiri di atas tanah negara. Tak ketinggalan soal perjuangan warga melawan para pemilik modal untuk mempertahankan lingkungan tempat tinggalnya.

Ah, atau yang sedikit lebih ringan, dengan blusukan, saya lalu bisa menemukan warung kopi kecil berusia tua di gang-gang kecil sebuah kota. Kisahnya apik. Tentang upaya bertahan eksis di antara gempuran lahirnya sederet coffeeshop bergengsi.

2. Kembang Gula Mas Haryo dan Nikmatnya Berbincang dengan Warga Lokal

Titik nol Jogja - elhotelroyalemalioboro
Titik 0 Yogyakarta (Foto: IG @elhotelroyalemalioboro)

“Dalam perjalanan, rupanya berbincang dengan warga lokal menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mungkin saat sedang beristirahat dalam perjalanan, sensasi bersua kata dengan warga lokal akan terasa lebih greget ketimbang jari hanya beradu lincah di layar gadget.”

Kalau sudah pernah berkunjung ke kawasan Malioboro, minimal pasti juga sudah pernah melewati Benteng Vredeburgh yang berada di persimpangan titik nol Yogyakarta. Saya pertama kali bertemu dengan Mas Haryo di sana.

Mas Haryo bukan gebetan, pacar, apalagi mantan terindah saya. Mas Haryo yang asli Yogyakarta adalah seorang penjual Kembang Gula keliling. Bersama pedagang lainnya, ia sering nekat menggelar dagangannya di depan Benteng Vredeburgh. Tempat itu sebenarnya merupakan kawasan bebas pedagang kaki lima. Namun katanya, pembeli lebih banyak di area situ ketimbang di alun-alun. 

Sore itu, Mas Haryo kebetulan sedang nekat seperti biasanya. Saya pun juga sedang entahlah apalah sehingga memilih menghabiskan sore sambil melihat ragam polah orang-orang di keramaian di depan Benteng Vredeburgh. Melalui sebungkus Kembang Gula merah yang saya beli, obrolan ngalor ngidul saya bersama Mas Haryo dimulai.

Beberapa yang masih saya ingat, dari Mas Haryo, saya jadi banyak tahu bagaimana suka dukanya berjualan Kembang Gula. Terlebih saat harus berhadapan dengan razia SatPol PP. Begitu pula dengan usaha sampingannya saat sedang tidak berjualan Kembang Gula. Masih ada juga cerita tentang beberapa pertunjukan wayang yang pernah ia saksikan, lengkap dengan seluk beluk perwayangan. Kisah lain soal rute angkutan umum di Yogyakarta pun tidak lupa diajarkannya pada saya. Ia hapal sekali. Maklum, alat transportasi yang dimilikinya hanya sepeda ontel yang juga dipakainya untuk berjualan keliling. Kalau perlu pergi cukup jauh, mau tidak mau harus naik angkutan umum.

Yang cukup menyentuh, sebelum pulang, pria paruh baya itu memberikan 2 bungkus Kembang Gula yang tersisa dari dagangannya. Saya menolak. Ia memaksa. Katanya, sebagai tanda pertemanan. Saya pun kalah. Jadilah dua bungkus Kembang Gula merah dan putih dalam bungkus plastik bergambar “Shaun the Sheepmelambai-lambai mesra tertiup angin di sepanjang perjalanan pulang.

Selain sore itu, saya masih pernah beberapa kali bertemu lagi dengan Mas Haryo saat berkunjung ke titik nol, salah satu tempat wisata di Yogyakarta. Dua tiga kali di antaranya kami habiskan mengobrol sambil ngopi di warung yang berada di area Pasar Beringharjo. Warung kopi yang belum pernah saya tahu sebelumnya.   

3. Eyang Pandu dan Pandu Pustaka Yang Menggugah

3 rasa dari 3 perjalanan - Eyang Pandu Pekalongan
Foto: @jejakdolan

“Bukankah lebih nyaman menghabiskan waktu untuk duduk membaca saja di ruang baca pribadi sembari menyeruput secangkir teh panas? Lebih-lebih, koleksi buku pun akan lebih aman dari kemungkinan rusak dan hilang. Cukuplah membagi kegemaran membaca dan koleksi buku hanya pada anak dan cucunya saja. Rupanya, Eyang Pandu adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak berpikiran seperti itu.”

Saat ke Pekalongan sekitar 2015 lalu, singgah di kediaman Eyang Pandu sama sekali tidak ada dalam daftar perjalanan saya. Eyang Pandu itu siapa, saya saja tidak tahu. Teman saya yang kemudian mengajak saya ke sana sesaat selepas magrib. Itulah awal mula saya mengenal Eyang Pandu dan semangatnya untuk terus menyebarkan budaya membaca di Pekalongan.

Menuju ke Kelurahan Poncol – Pekalongan Timur, saya diajak untuk mengunjungi Pandu Pustaka. Pandu Pustaka adalah perpustakaan masyarakat yang didirikan oleh Eyang Pandu. Alasan Eyang Pandu mendirikan Pandu Pustaka sederhana saja. Ia hanya ingin agar masyarakat Pekalongan gemar membaca.

Ada banyak koleksi buku di Perpustakaan Pandu. Mulai dari bacaan berat hingga bacaan untuk anak-anak. Kebanyakan adalah koleksi pribadi Eyang Pandu, sisanya adalah hibah dari donatur. Sistem pinjam di Perpustakaan Pandu hanya menggunakan metode kejujuran. Pilih buku yang ingin dibaca, tulis sendiri di buku peminjaman, lalu kembalikan tepat waktu setelah selesai membaca.

Tidak sekedar duduk menunggu ada yang datang ke perpustakaannya, Eyang Pandu berani “jemput bola”. Ia sering berkeliling untuk meminjamkan beberapa bukunya kepada orang-orang. Tidak jarang Eyang Pandu juga dengan ramahnya meladeni pengunjung yang datang ke perpustakaannya. Ia dengan senang hati berbagi cerita tentang buku-buku, tentang koleksi uang kunonya, bahkan tentang sejarah Kota Pekalongan. Ia punya banyak koleksi foto-foto Pekalongan tempo dulu.

Pandu Pustaka bagi saya bukan hanya sekedar ruang buku dan ruang baca bagi masyarakat Pekalongan. Lebih dari itu, Pandu Pustaka adalah lambang semangat dan kepedulian. Di usianya yang tidak lagi muda, Eyang Pandu masih peduli soal menjaga semangat membaca tetap hidup di masyarakat. Pula soal kejujuran.    

***

Dari kisahnya tentang 3 rasa dari 3 perjalanan tersebut, lagi-lagi kami sepakat: ternyata manusia memang tidak selalu seketika peka. Sesekali butuh dibuat melangkah lebih jauh dulu untuk kemudian melek. Seperti kawan kami itu. Ia harus dibuat melangkah dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Pekalongan. Kemudian, belakangan baru menyadari dan belajar hal-hal sederhana dari orang-orang yang ditemuinya di perjalanan. Salam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *