Merekam Sekilas Perhelatan Pekan Film Semarang 2018

Setelah sukses pada 2016, akhir pekan lalu sine[room] kembali menghadirkan Pekan Film Semarang 2018 bagi para pecinta film alternatif. Acara yang berlangsung pada 21-23 September 2018 tersebut terselenggara di Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama Semarang. Acara ini resmi dibuka pada 21 September 2018 oleh Ibu Masdiana Safitri (Asisten III Administrasi Umum Kota Semarang). Beliau mewakili Ibu Hevearita (Wakil Walikota Semarang) yang berhalangan hadir dalam acara pembukaan.

Berbeda dengan sebelumnya, Pekan Film Semarang kali ini tak berdiri sendiri. Pekan Film Semarang hadir secara istimewa berkolaborasi menjadi bagian dalam gelaran Festival Kota Lama Semarang 2018. Beruntung kami berkesempatan hadir untuk merekam sekilas jalannya perhelatannya.

Kolaborasinema, Tema Pekan Film Semarang 2018

Pekan Film Semarang 2018 mengangkat tema Kolaborasinema. Kolaborasinema berangkat dari dua kata utama, kolaborasi dan sinema. Disela-sela ngobrol santai, Erma – Direktur Program sine[room] – menjelaskan tentang ide utama dari tema Kolaborasinema tersebut.

“Proses pembuatan sebuah film nggak bisa dilakukan sendiri. Ada banyak orang, ada banyak pihak yang terlibat dalam prosesnya. Dari awal dan sampai film itu muncul ke penonton. Nah, kolaborasi muncul di proses-proses itu,” ungkapnya.

Jadwal Acara di Pekan Film Semarang 2018
Sumber : IG sine[room]

Sine[room] kemudian menuangkan tema Kolaborasinema ini ke dalam rangkaian acara Pekan Film Semarang 2018. Mulai dari weekend film challenge, pemutaran film, rasan-rasan sinema, hingga diskusi dengan para pembuat film.

Diskusi Dengan Salah Kru Film Omnibus "Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran"
Diskusi Dengan Salah Satu Kru Film Omnibus “Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran”

Seru-Seruan ‘Ngebut’ Bikin Film di Weekend Film Challenge

Weekend Film Challenge menjadi salah satu program di Pekan Film Semarang 2018. Melalui Weekend Film Challenge, panitia menantang para pembuat film untuk menunjukkan kreativitasnya dalam membuat film berdurasi maksimal 10 menit. Waktu pembuatan film hanya 3 hari, yaitu mulai dari menulis, pengambilan gambar, sampai ke proses penyuntingan.

Genre film pun ternyata baru diketahui oleh para peserta saat pengundian genre. Untuk lebih menguji kreativitas, panitia mewajibkan para peserta untuk memasukkan unsur properti khusus yang sudah ditentukan.

Film Hasil Weekend Film Challenge
Sumber : IG sine[room]

Total ada 7 film yang berhasil menyelesaikan misinya dalam Weekend Film Challenge ini. Penyelenggara kemudian memutar film hasil karya para peserta Weekend Film Challenge sebagai salah satu suguhan tontonan di Pekan Film Semarang 2018.

Beragam Film Alternatif 

Selain film dari peserta weekend film challenge, panitia juga menghadirkan 4 film omnibus dan 12 film submisi. Film omnibus menjadi film utama. Film omnibus merupakan film berdurasi panjang yang memuat beberapa kisah pendek. Tiap kisah tersebut terhubung melalui sebuah benang merah yang sama, atau bisa juga adanya kesamaan setting maupun tema cerita. Biasanya, kisah-kisah pendek yang ada dalam sebuah film omnibus dibuat oleh sutradara yang berbeda.

Ardian Agil – koordinator sine[room] – dalam wawancara bersama infoscreening.co mengungkapkan alasan pemilihan film omnibus sebagai film utama. Ia menyebutkan bahwa film omnibus adalah film yang paling dekat menggambarkan kolaborasi dunia perfilman. 

Adapun film omnibus pilihan di Pekan Film Semarang 2018 yaitu Mobil Bekas dan Kisah Dalam Putaran, 9808, Princess Bajak Laut dan Alien, serta Ziarah Kenangan.

Film Submisi di Pekan Film Semarang 2018
Sumber : IG sine[room]

Sementara itu, untuk film submisi, ada sejumlah film pendek yang dikirimkan oleh para pembuat film di seluruh Indonesia. Namun, tim kurasi juga fokus pada film-film pendek karya para pembuat film di Semarang dan sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk melihat geliat dan potensi perfilman di Semarang. Hasilnya tak begitu mengecewakan. Ada lebih dari 50 film yang masuk. 12 di antaranya lolos menemui penontonnya di Pekan Film Semarang 2018.

Catatan Akhir Tentang Pekan Film Semarang 2018

Jika kami membandingkan dengan perhelatan Pekan Film Semarang 2016 yang lalu, sine[room] selaku inisiator Pekan Film Semarang terlihat membenahi banyak hal. Mulai dari promosi yang semakin gencar, berikut desain bahan promosi yang lebih menarik. Begitu juga dengan proses pembelian tiket, hingga penjualan merchandise resmi Pekan Film Semarang 2018 yang lebih bervariasi.

Film-film yang tersaji pun tak kalah menarik dari pekan film sebelumnya. Rasanya tiket masuk seharga Rp20.000,00 tak cukup besar untuk mengapresiasi karya-karya film yang luar biasa tersebut.

Salah Satu Film Omnibus di Pekan Film Semarang 2018

Mungkin menjadi catatan untuk Pekan Film Semarang selanjutnya adalah persoalan waktu. Ngaret seperti menjadi kendala klasik yang sulit tuntas. Entah karena masalah teknis, ataupun sekadar menunggu penonton datang lebih ramai.

Begitu pula dengan kenyamanan penonton saat menyaksikan film. Penataan kursi maupun posisi layar masih terasa kurang pas. Kami duduk di baris kedua dan ketiga. Perlu beberapa kali menyesuaikan posisi duduk karena pandangan ke arah layar seringkali tertutup oleh penonton di baris depan. Ditambah lagi dengan posisi layar yang menurut kami terpasang kurang tinggi. Sesekali layar yang terbuat dari bentangan kain putih tersebut juga masih nampak bergoyang saat ada angin. Rasanya seperti kurang kencang di tiap sisinya.

Baru Pertama Kali, dan Tak Jera

Cerita lain datang dari Mas Yokhan, salah satu penonton yang duduk di baris paling belakang. Ini kali pertama ia berkunjung ke Pekan Film Semarang. Saat ia tiba, pemutaran film sudah berlangsung. Setelah melalui proses pemeriksaan tiket, panitia hanya mempersilakannya masuk ke area pemutaran film yang saat itu sudah lumayan gelap. Tanpa ada bantuan dan arahan lebih lanjut dari panitia, ia mencari sendiri kursi yang masih tersisa.

Soal film, Mas Yokhan mengaku bahwa ia tak mencari tahu perihal judul film atau genre film apa yang akan tayang. “Saya biarkan saja supaya mendapatkan kejutan. Tak pula berekspetasi apapun. Ternyata memang banyak kejutan,” ujarnya.

“Pilihan film-filmnya memang memiliki penikmat tersendiri,” tambahnya lagi. Bagi Mas Yokhan yang adalah penikmat film mainstream di jaringan bioskop 21, ia sedikit susah memahami alur cerita film yang cenderung idealis. Penjelasan tentang film yang tertuang di dalam brosur tak cukup membantu. Tulisannya sangat kecil, dan nyaris tak terbaca karena kualitas fotocopy yang kurang bagus.

Kami pun sependapat perihal brosur ini. Apalagi dengan kondisi venue yang tak terlalu terang, maka makin menyulitkan kami untuk melihat huruf-huruf kecil yang tercetak samar di dalam brosur.

Untuk venue, ia berharap di pekan film selanjutnya semoga bisa terlaksana di indoor saja. Tempat dengan konsep outdoor tak representatif. Selain persoalan banyaknya nyamuk, persoalan setting tata suara pun bisa teratasi jika penyelenggaraannya di ruangan tertutup.

“Dari pengalaman kemarin, masih tertarik untuk datang di acara yang sama di lain kesempatan?” tanya kami di akhir perbincangan.

“Iya, untuk mencari penyegaran dari film yang hanya diputar di bioskop 21. Film indie punya sudut pandang dan pengambilan gambar yang kadang berbeda. Walaupun dari sisi ceritanya mungkin perlu waktu untuk ‘mengunyah’ dan ‘mencerna’ nya.”

———————————————————————

Pekan Film Semarang - Jejak Dolan

Secara keseluruhan, kami memberikan apresiasi luar biasa bagi sine[room] dan pihak-pihak yang turut berkolaborasi dalam persiapan serta pelaksanaan Pekan Film Semarang 2018. Salut! Semoga ke depannya Pekan Film Semarang akan selalu lebih baik, selalu lebih sukses, dan kian akrab dengan para penikmat film dari berbagai latar selera.

Nah, untuk Kawan Dolan yang belum sempat ikut merasakan keriaannya, pastikan jangan sampai kelewatan perhelatan Pekan Film Semarang di tahun berikutnya, ya!

2 Replies to “Merekam Sekilas Perhelatan Pekan Film Semarang 2018”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.