Kenali Lima Penyebab Culture Shock di Indonesia

Traveling ke tempat yang sama sekali baru memang menyenangkan. Namun, dalam jangka waktu tertentu, seorang pejalan bisa saja mengalami culture shock. Orang yang mengalami culture shock perlu mendapatkan bantuan agar perasaan bingung dan stresnya tidak berkepanjangan. Nah, kali ini kami akan mengajak Kawan Dolan untuk membantu orang asing, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengunjungi Indonesia. Kamu bisa berperan sebagai warga lokal yang menjadi bagian dari global citizenship. Caranya gimana? Kamu harus tahu dulu apa itu culture shock. Kemudian, cari tahu hal-hal apa saja yang berpotensi menjadi penyebab culture shock bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Dengan memahami kedua hal tersebut, maka kamu bisa mulai memberitahu dan membantu mereka mengatasi ketidaknyamanan yang mungkin muncul. Untuk lebih jelasnya, yuk langsung simak pembahasan lengkapnya berikut ini. 

Apa Itu Culture Shock?

Supaya lebih paham, kita lihat dulu pengertian culture shockCulture shock adalah perasaan terkejut, cemas, disorientasi, atau kegelisahan seseorang akibat kehilangan hal-hal yang sudah dikenalnya sejak lama. Di Indonesia, culture shock disebut juga dengan istilah ‘gegar budaya’. Melansir dari Languages Alive, istilah culture shock atau gegar budaya ini pertama kali diperkenalkan pada 1960 oleh Kalervo Oberg, seorang antropolog. Dalam hal traveling, culture shock biasanya muncul saat seorang pejalan sulit beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan asing di daerah atau negara yang sedang ia kunjungi. 

Penyebab Culture Shock di Indonesia

Ada kebiasaan-kebiasaan unik dari masyarakat kita yang seringkali membuat orang asing bingung. Mungkin kebiasaan ini tidak lumrah di negara mereka, makanya ketika berkunjung ke Indonesia, hal ini menjadi penyebab terjadinya culture shock. Berdasarkan pengalaman kami berbincang dengan beberapa kawan pejalan dari negara lain, 5 kebiasaan orang Indonesia berikut ini sering membuat mereka bingung dan merasa kurang nyaman. Kalau kamu punya teman pejalan dari negara lain, kamu bisa bantu mereka saat kebingungan dengan 5 hal ini, ya. 

Kebiasaan 1: Panggilan “Bule” dan “Mister”

Tidak peduli dari mana asal dan jenis kelaminnya, orang Indonesia biasanya suka menyebut orang asing dengan sebutan ‘bule’ atau ‘mister’. Apalagi kalau penampakannya berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang.

Kalau kamu punya teman pejalan dari negara lain yang sedang mendapat perlakuan seperti ini, bantu beri pemahaman kepada mereka. Apalagi kalau mereka terlihat tidak nyaman saat berkali-kali dipanggil ‘bule’. Sampaikan bahwa panggilan ‘bule’ dan ‘mister’ bukanlah hal yang buruk. Cukup balas panggilan tersebut dengan lambaian tangan atau senyuman. 

Kebiasaan 2: Permintaan Foto Bersama

Penyebab Culture Shock

Pic: brilio.net

Selain menyapa dengan sebutan bule, orang Indonesia juga suka mengajak orang asing untuk berkenalan, ngobrol, dan berfoto bersama. Kalau teman pejalanmu terlihat bingung, maka ada dua hal yang bisa kamu lakukan untuk membantunya:
Pertama, jelaskan kepada temanmu bahwa bagi beberapa orang di Indonesia, foto bersama dengan orang asing adalah kebanggaan. Terutama bagi anak-anak usia sekolah. Hal ini seolah-olah menjadi bukti bahwa mereka sudah pernah bertemu dengan ‘bule’. 
Kedua, setelah mendengar penjelasanmu, tanyakan kepadanya apakah ia keberatan dengan permintaan untuk foto bersama tersebut. Jika ia keberatan, jangan memaksa. Ini berkaitan dengan privasi. Kemudian, kamu bisa membantu menjelaskan alasan teman asingmu kepada orang-orang yang meminta foto bersama. 

Kebiasaan 3: Menggunakan Gayung di Toilet/Kamar Mandi

Penyebab Culture Shock di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara yang masih menggunakan kloset jongkok. Di daerah pinggir kota, kloset jenis ini lebih mudah ditemukan. Untuk membersihkan diri, di toilet biasanya tersedia gayung dan air untuk membersihkan diri. Jadi, tidak menggunakan bidet (selang air). 

Padahal, di banyak negara, toilet biasanya menggunakan kloset duduk. Urusan membersihkan diri pun sudah cukup lumrah dengan adanya tisu toilet (tisu gulung) atau bidet. Perbedaan kelengkapan toilet ini rentan menimbulkan masalah bagi orang asing yang terbiasa dengan kloset duduk, tisu, dan bidet.

Nah, supaya teman asingmu tidak bingung, kamu bisa mengajarkan mereka bagaimana cara menggunakan gayung untuk keperluan buang air besar dan buang air kecil. Namun, tidak ada ruginya kalau kamu bantu menyediakan tisu gulung selama masa penyesuaian mereka. 

Kebiasaan 4: Tisu Gulung (atau Tisu Toilet) di Meja Makan
lima kebiasaan penyebab culture shock di Indonesia
Pic: www.potretnews.com

Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Rusia memiliki sistem toilet kering. Toilet kering artinya penduduk negara tersebut menggunakan tisu (biasanya berbentuk gulungan atau tisu gulung) untuk membersihkan sisa kotorannya.

Sedangkan di Indonesia, tisu gulung adalah pelengkap di meja makan. Kamu bisa menemukan banyak warung makan hingga restoran yang menggunakan tisu gulung ini. Gunanya? Ya untuk membersihkan tangan dan mulut sesudah makan.

Beda fungsi tisu gulung ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, lho. Sebagai tuan rumah yang baik, kamu perlu memberi tahu teman asingmu tentang budaya tisu gulung di atas meja ini. Atau, singkirkan saja tisu gulung dari atas meja sebelum mereka merasa tidak nyaman. 

Kebiasaan 5: Sapaan dengan Panggilan Pak/Bu

Kebiasaan menyapa dengan nama panggilan atau nama belakang lumrah di beberapa negara, terutama saat berada di kondisi sehari-hari (informal). Mereka hanya menggunakan kata “sir” atau “ma’am” (dalam Bahasa Inggris) pada situasi formal saja. 

Tidak jarang kebiasaan ini terbawa ke Indonesia dan membuat kesalahpahaman. Orang Indonesia, terutama yang usianya lebih tua, saat disapa dengan nama panggilan tentu akan menunjukkan ekspresi atau gestur tidak nyaman. 

Jadi, beritahukan kepada teman asingmu untuk menggunakan sapaan “Pak” dan “Bu” kepada orang yang lebih tua. Jelaskan bahwa menyapa dengan nama panggilan adalah tindakan yang kurang sopan. Sapaan dengan nama panggilan biasanya hanya untuk teman dekat atau orang yang lebih muda.

——

Sampai di sini, apakah kamu sudah paham apa itu culture shock, penyebabnya, dan bagaimana cara membantu teman asingmu untuk mengatasi culture shock? Yang penting, jangan panik saat kamu menghadapi situasi dimana teman asingmu sedang terkena culture shock. Apalagi kalau sampai terjadi gesekan atau kesalahpahaman yang melibatkan warga setempat. Saran kami, diamlah sejenak, kemudian coba cari letak permasalahannya. Bantu warga setempat untuk memahami bahwa teman asingmu tidak paham dengan kebiasaan-kebiasaan di tempat tersebut. Lalu, jangan lupa untuk minta maaf. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *